Kajian Tafsir Juz 30
Muqoddimah
Surat Al Buruujterdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Asy-Syams. Dinamai "Al Buruuj" (gugusan bintang) diambil dari perkataan "Al Buruuj" yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
• Pokok-pokok Isi Surat Al-Buruj [1]
1. Sikap dan tindakan-tindakan orang-orang kafir terhadap orang-orang yang mengikuti seruan para rasul;
2. Bukti-bukti kekuasaan dan keesaan Allah;
3. Isyarat dari Allah bahwa orang-orang kafir Mekah akan ditimpa azab sebagaimana kaum Fir'aun dan Tsamud telah ditimpa azab;
4. Jaminan Allah terhadap kemurnian Al Quraan
• Hubungan surat Al-Insyiqaq dengan surat Al-Buruj [1]:
1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan janji-janji Allah kepada orang-orang mu'min serta ancaman-anacaman-Nya kepada orang yang mengingkari seruan Rasululah s.a.w.
2. Pada surat Al-Insyiqaaq diterangkan sikap orang-orang musyrik terhadap seruan rasululah s.a.w., sedang surat Al-Buruuj menerangkan sikap orang-orang musyrik dan tindakan-tindakan mereka yang biasa mereka lakukan sejak dahulu terhadap orang-orang yang menerima seruan para rasul
• Keutamaan Surat Al-Buruj [2]
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW dalam shalat Isya’nya acapkali membaca was-samaai zaatil buruuj (al-Buruj) dan was-samaai wath-thaariq (ath-Thariq). (HR. Ahmad)
• Ringkasan Isi Surat
Sayyid Quthb mengatakan [3] bahwa surat yang pendek ini mengetengahkan hakikat akidah, prinsip-prinsip dasar iman, perkara-perkara yang agung, dan memancarkan cahaya kuat di sekelilingnya.
Di belakang nilai-nilai spiritual dan hakikat yang diungkapkan oleh hampir seluruh ayat (kalimat) di dalam teks ini, membukakan jendela-jendela pemandangan ke suatu alam luas yang lingkari hakikat.
Obyek langsung yang dibicarakan surah ini adalah peristiwa orang-orang yang menggali parit (ashhabul ukhdud), yaitu bahwa sekelompok dari orang-orang beriman sebelum Islam (ada yang mengatakan orang-orang Nashrani yang mu’min) melepaskan diri dari musuh-musuh mereka yang kejam dan jahat di mana musuh-musuh ini menghendaki agar mereka menukar kepercayaan (murtad), tetapi mereka enggan dan menentang mereka itu dengan keyakinan yang kuat. Kemudian musuh-musuh jahat dan kejam itu menggali parit-parit untuk mereka, yang di dalamnya dinyalakan api. Kemudian orang-orang mu’min itu dimasukkan kedalamnya hingga mati terbakar.
Maksud dari pemandangan berupa timbunan mayat yang dilakukan orang-orang yang berkuasa itu adalah, supaya dapat disaksikan bagaimana cara mereka membantai sekelompok orang-orang mu’min secara kejam dan keji, dan untuk membayangkan kegembiraan orang-orang zhalim itu menyaksikan penyiksaan yang mereka lakukan, membakar anak cucu Adam yang mu’min, karena orang-orang mu’min tersebut beriman kepada Allah.
Maka surah ini mengaitkan antara langit dan gugusan bintang yang mengagumkan, dan hari yang dijanjikan serta peristiwa-peristiwa hebat di dalamnya, dan gerombolan manusia yang menyaksikan serta peristiwa-peristiwa yang disaksikan di sana, semuanya. Antara peristiwa-peristiwa serta kemarahan langit atas orang-orang kejam itu, terdapat ikatan kuat.
Kemudian surat ini memperlihatkan suatu lintasan pemandangan yang mengerikan, peristiwa keji yang mengiris-iris perasaan, disertai keagungan akidah yang mematahkan tindakan kejam yang dilakukan manusia atas orang-orang mu’min. Allah membinasakan mereka dengan neraka, serta mengalahkan kehidupan mereka itu sendiri. Akhirnya bagaimana akidah mengangkat derajat manusia ke puncak ketinggian.
Selain itu, memberitahukan tentang perbuatan keji serta segala kezhaliman, kejahatan dan kehinaan yang terkandung di dalamnya. Lalu diikuti dengan ketinggian, kebebasan dan kesucian orang-orang mu’min.
Sesudah ini, datanglah secara berturut-turut ayat-ayat pendek yang berisi counter terhadapa persoalan besar yang menyangkut urusan da’wah, dan akidah serta prinsip iman yang murni:
• Isyarat tentang kerajaan Allah di langit dan di bumi, serta penyaksian dan kehadiranNya dalam setiap peristiwa di langit dan bumi
• Isyarat tentang adzab nereka Jahannam dan siksa yang membakar, yang disediakan untuk orang-orang zhalim yang jahat dan hina itu. Kemudian tentang ni’mat syurga sebagai keberuntungan yang besar bagi orang-orang mu’min yang memilih akidah dari pada hidup
• Pemberitahuan tentang adzab Allah yang keras, yang menciptakan manusia dari permulaan dan mengembalikannya lagi
Ini adalah hakikat yang langsung berhubungan dengan kehidupan yang dimusnahkan di dalam peristiwa tersebut, dan di balik peristiwa ini terdapat pancaran yang jauh.
Sesudah itu, disertakan sifat-sifat Allah. Dan setiap sifat itu mengena bagi suatu urusan. Kemudian isyarat cepat mengenai orang-orang zhalim tempo dulu di mana mereka memegang senjata.
Tafsir Ayat 1 – 10 [2]
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang (ayat 1): Allah SWT bersumpah dengan menyebut nama langit dan gugusan-gugusannya, yakni bintang-bintangnya yang besar-besar, seperti dalam surat al-Furqon: 61. Al-Buruj artinya:
• Bintang-bintang (Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-Dhahhak, Al-Hasan, Catada dan As-Saddi)
• Yang ada penjaganya (Mujahid)
• Gedung-gedung yang terdapat di langit (Yahya bin Rafi’)
• Bentuk yang baik (Al-Minhal bin Amr)
• Manzilah-manzilah matahari dan bulan, yang semuanya ada 12 buruj: matahari menempuh tiap-tiap manzilah itu selama satu bulan, sedangkan bulan berjalan pada masing-masing darinya selama 2/3 hari, yang berarti 28 malam, sedangkan yang 2 malamnya bulan bersembunyi (Ibnu Jarir)
Dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan (ayat 2-3): ada banyak pendapat
PENDAPAT Hari yang dijanjikan Yang menyaksikan Yang disaksikan
Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Khuzaimah Hari kiamat Hari Jum’at Hari Arafah
Imam Ahmad Hari Jum’at Hari kiamat
Imam Ahmad, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Ibnu Zaid Hari kiamat Hari Jum’at Hari Arafah
Abu Malik al-Asy’ari dan Said bin Musayyab Hari kiamat Hari Jum’at Hari Arafah
Ibnu Abbas, Al-Hasan bin Ali, Al-Hasan Al-Bashri Muhammad SAW (4:41) Hari kiamat (11:103)
Mujahid, Ikrimah, Adh-Dhahhak Anak Adam Hari kiamat
Ikrimah Muhammad SAW Hari Jum’at
Ali Ibnu Thalhah Allah SWT Hari kiamat
Ibnu Abi Hatim Manusia Hari Jum’at
Ibnu Abbas Hari Arafah Hari kiamat
Sufyan Ats-Tsauri Hari Raya Qurban Hari Arafah
Abu Darda Hari Jum’at
Said bin Jubair Allah (48:28) Kita semua
Kebanyakan ulama Hari Jum’at Hari Arafah
Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, ang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, etika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman (ayat 4 – 7). Terkutuklah para pembuat parit itu. Ukhdud bentuk jama’nya akhadid (galian). Hal ini menceritakan perihal suatu kaum yang kafir. Mereka dengan sengaja menangkap orang-orang mu’min yang ada di kalangan mereka; orang-orang mu’min itu lalu mereka paksa untuk murtad dari agama mereka, tetapi orang-orang mu’min itu menolaknya. Oleh karena itu kaum kafir itu membuat suatu galian untuk orang-orang mu’min yang mereka tangkap itu, kemudian mereka nyalakan di dalamnya api yang besar, dan mereka menyediakan kayu bakar yang cukup untuk membuat api itu tetap bergejolak. Setelah itu mereka membawa orang-orang mu’min yang mereka tangkap itu ke dekat galian, lalu ditawarkan kepada mereka untuk murtad, tetapi ternyata orang-orang mu’min itu menolak dan tidak mau menerimannya. Akhirnya orang-orang mu’min itu dilemparkan ke dalam parit yang ada apinya itu. Mereka menyaksikan apa yang dilakukan terhadap orang-orang mu’min itu.
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu'min itu melainkan karena orang-orang mu'min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (ayat 8): orang-orang mu’min itu tidak mempunyai salah terhadap mereka kecuali hanya karena iman mereka kepada Allah yang Maha Perkasa yang tidak tersia-sia orang yang berlindung di bawah naunganNya yang sangat kokoh, lagi Dia Maha Terpuji dalam semua perbuatan dan ucapanNya, dan dalam syariat dan takdirNya. Sekalipun Dia telah menakdirkan atas hamba-hambaNya yang beriman itu berada di tangan kekuasaan orang-orang kafir yang memberlakukan mereka seperti apa yang disebutkan di atas, maka Dia tetap Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, walaupun penyebab hal itu tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu (ayat 9): termasuk sifat Allah yang sempurna ialah Dia memiliki semua alam langit dan alam bumi berikut apa yang ada di antara keduanya dan juga yang ada di dalamnya. Tiada sesuatu pun yang tidak kelihatan bagiNya di langit dan di bumi, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya.
Ada beberapa pendapat tentang tempat terjadinya peristiwa parit api itu:
• Penduduk negeri Persia (Ali)
• Suatu kaum di Yaman (Ali)
• Penduduk negeri Habasyah (Ali)
• Segolongan orang-orang dari Bani Israil (Al-Aufi)
• Mereka adalah Nabi Danial dan para pengikutnya (Adh-Dhahhak dan Ibnu Muzahim)
• Kalangan sebelum Nabi Muhammad dengan seorang raja yang memiliki tukang sihir yang sudah lanjut usia (Ahmad, Muslim, Nasa’i). At-Turmudzi menambahkan: di masa pemerintahan Umar pemuda itu dikeluarkan dari kuburnya, sedangkan telunjuknya berada di pelipisnya seperti sedia kala saat dia terbunuh. At-Turmudzi menambahkan lagi bahwa hadits ini hasan gharib.
• Penduduk negeri Najran pada masa fatrah atau kekosongan kenabian antara Isa as dan Muhammad SAW di mana ada seorang raja yang memiliki tukang sihir yang sudah lanjut usia (Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar)
• Peristiwa di masa fatrah ketika sekelompok orang-orang beriman memisahkan diri dari masyarakat yang rusak, tapi dipaksa oleh raja zhalim untuk kembali murtad (Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir)
• Kisah suatu kaum sesudah zaman Nabi Ismail as (Abu Bakar alias Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia)
Ibnu Katsier melakukan hipótesis: peristiwa ini banyak terjadi di berbagai kawasan, sebagaimana dikatakan oleh
• Ibnu Abi Hatim dari Abdurrahman bin Jubair: peristiwa parit terjadi di negeri Yaman di masa Tubba’, di Konstantinopel di masa Kaisar Konstantinopel, di Irak di daerah Babilonia yang rajanya bernama Bukhtanasar.
• Asbat dari As-Saddi: parit di masa lalu ada tiga: di Irak, Syam, dan Yaman
• Muqatil: peristiwa parit itu ada tiga, di Najran (Yaman), Syam, dan Persia. Pelakunya Yusuf alias di Zu Nuwas (Yaman), Antonius (Syam) dan Bukhtanasar (Persia).
Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu'min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar (ayat 10): mereka adalah orang yang membakar mereka yang tidak mau menghentikan perbuatannya yang sewenang-wenang itu dan tidak menyesali apa yang telah mereka lakukan, maka mereka akan dimasukkan ke neraka Jahannam. Demikian itu karena pembalasan disesuaikan dengan jenis perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: “Perhatikanlah olehmu kemuliaan dan kemurahan ini, mereka telah membunuh kekasih-kekasihNya. Walaupun demikian, Dia menyeru mereka untuk bertobat dan meraih ampunanNya.”
Tafsir Ayat 11 – 22 [2]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar (ayat 11): berbeda dengan apa yang disediakanNya bagi musuh-musuhNya, yaitu api yang membakar dan neraka Jahim, orang-orang beriman memperoleh sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar.
Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras (ayat 12): sesungguhnya adzab dan pembalasan Allah terhadap musuh-musuhNya yang telah mendustakan rasul-rasulNya dan menentang perintah-perintahNya benar-benar keras, besar, lagi kyat. Karena sesungguhnya Allah SWT memiliki kekuatan yang Mahakokoh, yang segala sesuatu yang dikehendakiNya pasti terjadi menurut apa yang dikehendakiNya dalam sekejap atau lebih cepat dari itu. Untuk itulah maka disebutkan dalam ayat 13: Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Bahwa kekuatan dan kekuasaanNya yang sempurna dapat menciptakan makhluk dan menghidupkannya kembali seperti semula, tanpa ada yang dapat menghalang-halangi atau mencegahNya.
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih (ayat 14): Dia memberi ampunan dosa orang yang bertobat kepadaNya dan tunduk patuh padaNya betapapun besarnya dosa yang bersangkutan.
Yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia (ayat 15): yang memiliki ‘Arsy yang besar lagi tinggi di atas semua makhluk. Lafazh “al-majiid” ada dua qiraat:
• Al-majuud (dirafa’kan) karena menganggapnya menjadi sifat Allah
• Al-majiid (dijarrkan) karena menganggapnya menjadi sifat ‘arsy
Keduanya dibenarkan.
Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya (ayat 16): apapun yang hendak dilakukanNya tiada hambatan bagi keputusanNya, dan tiada yang menanyakan apa yang dikerjakanNya. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra ketika dikatakan kepadanya saat ia menjelang ajalnya, “Apakah tabib telah memeriksanmu?” Abu Bakar menjawab, “Ya.” Mereka bertanya, “Apakah yang dikatakannya?” Abu Bakar menjawab, “Dia berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya Aku Mahakuasa berbuat apa yang Aku kehendaki’.”
Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud? (ayat 17 – 18): apakah pernah kamu dengar pembalasan yang ditimpakan kepada mereka dan adzab yang diturunkanNya kepada mereka tanpa ada seorang pun yang dapat menolaknya dari mereka? Hal ini merupakan penegasan dari makna yang terkandung dalam ayat 12 (sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras). Apabila Dia menghukum orang zhalim, maka Dia menghukumnya dengan hukuman yang keras, sebagaimana layaknya hukuman dari Robb yang Maha Perkasa lagi Mahakuasa. Ketika Nabi SAW melewati seorang wanita yang membaca ayat ini, maka beliau menjawab: “Ya, telah datang kepadaku (نَعَمْ قَدْ جَاءَنِي)” (HR. Ibnu Abi Hatim)
Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan (ayat 19): mereka selalu berada dalam keraguan, kebimbangan, kekufuran, dan keingkaran.
Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka (ayat 20): Dia berkuasa atas mereka lagi mengalahkan, mereka tidak dapat luput dariNya dan tidak dapat melarikan diri dari kekuasaanNya.
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh (ayat 21 – 22): Al-Qur’an yang agung lagi mulia, yang terpelihara dari segala bentuk pengurangan, penambahan, perubahan, dan penyimpangan. Tentang lauh mahfuzh ada beberapa pendapat:
• Lauh mahfuzh yang disebutkan di atas itu terletak di kening malaikat Israfil (Ibnu Parir dari Anas bin Malik)
• “Tiada sesuatu pun yang telah ditetapkan oleh Allah, baik berupa al-Qur’an, dan yang sebelumnya dan yang sesudahnya melainkan berada di Lauh Mahfuzh. Dan Lauh Mahfuzh ini berada di antara kedua mata Malaikat Israfil, tidak diizinkan baginya melihat kepadanya” (Ibnu Abi Hatim dari Abdurrahman bin Salman)
• Sesungguhnya al-Qur’an yang mulia ini berada di sisi Allah di Lauh Mahfuzh. Dia menurunkan sebagian darinya menurut apa yang dikehendakiNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari kalangan makhlukNya (Al-Hasan Al-Bashri)
• Tidak ada ilah kecuali Allah semata, agamaNya Islam, dan Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan membenarkan janjiNya serta mengikuti rasul-rasulNya, maka Allah akan memasukkannya kedalam sorga” (Al-Baghawi)
• Lauh adalah lembaran dari mutiara yang putih, panjangnya sama dengan jarak antara bumi dan langit, dan lebarnya sama dengan jarak antara masyriq dan maghrib, sedangkan kedua sisinya dari mutiara dan yaqut, dan sampulnya dari yaqut merah, qalamnya dari cahaya, dan kalamNya telah tertulis di ‘Arsy dan pokoknya berada di pangkuan seorang malaikat (Ibnu Abbas). Pendapat ini didukung oleh sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara yang putih, lembaran-lembarannya dari yaqut merah, dan qalamnya dari nur serta tintanya dari nur pula. Setiap hari Allah memerintahkan kepada Lauh Mahfuzh sebanyak 360 perintah untuk menciptakan, memberi rizki, mematikan, menghidupkan, memuliakan, menghinakan, dan Dia berbuat menurut apa yang dikehendakiNya.” (HR. Thabrani)
• Lauh Mahfuzh berada di sebelah kanan ‘Arsy (Muqatil)
Bojonggede, 25 Agustus 2005
Abdul Wahid Surhim
Rujukan:
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2. Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail, Tafsir Ibnu Kasir Juz 30: An-Naba 1 s.d. An-Nas 6, Halaman 180-204, Sinar Baru Algensindo, Bandung 2004
3. Qutb, Sayyid, Fi Zhilaalil Qur’an Juz Amma – Tafsir Di Bawah Naungan Al-Qur’an, H. Bey Arifin & Jamaluddin Kafie (Penerjemah), 1984, Bina Ilmu, Surabaya
4. Ibnu Katsir, Khalid bin Musthafa Salim Abu Shaleh (Muhaqqiq), Farizal Tirmizi (Penerjemah), Tafsir Juz Amma, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Cetakan Keenam, November 2004
5. Ibnu Katsir, Tasfirul Qur’anil Azhim, Juz 4, Maktabah wa Mathba’ah Thaha Putra Semarang
Kemampuan yang Diharapkan
Setelah mengikuti Kajian Tafsir Surat Al-Buruj, peserta diharapkan mampu:
1. Menjelaskan bahasan yang ada pada surat ini.
2. Menjelaskan makna dari kosakata baru yang pada surat ini.
3. Menerangkan secara global makna dari surat ini sambil menjelaskan setiap bahasan yang ada dalam surat ini.
4. Meneybutkan setia rukun qasam yang ada pada surat ini (al-muqsim, al-muqsam bihi dan al-muqsam alaih)
5. Menjelaskan hubungan antara setiap rukun qasam.
6. Menerangkan siapa yang dimaksud dengan as-haabul ukhduud
7. Menjelaskan makna yang dimaksud dari ayat: “qutila ashaabul ukhduud”
8. Menceritakan kisah ashaabul ukhduud dan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang beriman melalui rujukan riwayat yang shahih dari sunnah bukan cerita isarailiyyat atau hadits-hadits yang maudhu’.
9. Menejelaskan hubungan antara kisah ashaabul ukhdud dengan keadaan orang-orang yang beriman di mekkah ketika itu (zaman nabi Muhammad SAW), serta bagaiman seharusnya kita mensikapi kejadian yang berhubungan dengan dakwah kita di setiap zaman.
10. Menjelaskan apa yang dimaksudkan Allah SWT dalam firmannya: ínna batsya robbika lasyadiid, innahu huwa yubdi’u wa yu’iid, wah huwal ghafuuru –waduud, dzul-‘arsyil majiid dan fa’aalun lima yuriid”.
11. Menjelaskan hubungan antara ayat-ayat yang ada pada surat ini dan rangkaian ayat yang terdapat pada surat sejenis.
12. Mengambil pelajaran yang ada pada ayat-ayat di surat ini, baik itu yang berhubungan dengan aqidah, akhlak, sejarah dan nilai-nilai tarbawiyyah.
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Januari 2009
Kajian Tafsir Juz 30
Tafsir Surat ‘Abasa (80)
Muqoddimah
Surat ‘Abasa (ia bermuka masam) terdiri dari 42 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan setelah surat An-Najm (53). Dinamai “Abasa” diambil dari perkataan ‘Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini [1].
Hubungan surat ‘Abasa dengan surat An-Nazi’at adalah: pada akhir surat An-Nazi’at diterangkan bahwa Nabi Muhammad SAW hanyalah pemberi peringatan kepada orang-orang yang takut kepada hari kiamat (79:45), sedangkan pada permulaan surat ‘Abasa dibayangkan bahwa dalam memberikan peringatan itu hendaklah memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi peringatan dengan tidak memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat [1].
Tentang garis besar isi surat ‘Abasa, Asy-Syahid Sayyid Quthb berkomentar [2]:
“Surat ini terbagi kedalam beberapa potongan (bagian) yang besar, sentuhan yang mendalam, image dan sugesti serta kesan-kesan yang unik, memberi inspirasi harmonis dalam irama dan nada musik yang sama. Potongan pertama merupakan obat dengan khasiat tertentu terhadap suatu peristiwa sejarah.
Nabi Muhammad SAW sibuk mengurusi da’wah, mengajak tokoh-tokoh Quraisy kedalam Islam ketika Ibnu Ummi Maktum, seorang laki-laki buta yang miskin itu, datang kepadanya. Laki-laki itu tidak tahu kalau Nabi sedang sibuk dengan urusan ummat. Ia datang memohon kepada Nabi agar mengajarinya ilmu agama. Maka Nabi tidak menyukainya dan bermuka masam serta memalingkan wajahnya. Allah menurunkan al-Qur’an pada bagian pertama surah ini mengecam keras akan sikap Nabi, serta menetapkan nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat Islam secara tegas merangsang, di samping itu juga menetapkan hakikat karakteristik da’wah ini (ayat 1 – 16).
Potongan kedua untuk mengobati keingkaran manusia, kekafiran dan kejahatannya terhadap Tuhannya. Allah mengingatkan kepada manusia siapa yang mewujudkan dirinya, asal kejadiannya, kemudahan hidupnya, kekuasaan Tuhannya untuk mematikan dan membangkitkannya kembali, kemudian kelalaiannya dalam melaksanakan perintahNya (ayat 17 – 23).
Potongan ketiga menyinggung tentang kecenderungan hati manusia terhadap kebutuhan hidupnya, yaitu makanan dan minumannya, serta makanan dan minuman binatang ternaknya. Di balik itu mengenai ketentuan serta kekuasaan Allah yang mengatur dan mengurus makanannya itu sebagaimana mengatur dan mengurus kejadian dirinya (ayat 24 – 32).
Potongan yang paling akhir menoleh kepada sifat “sangkakala” pada hari ditiupkan suaranya yang memakakkan telinga, dan menakutkan itu. Kata-katanya jelas seperti pengaruhnya yang nampak di dalam hati manusia yang kebingungan, lupa terhadap lainnya dan kepada wajah-wajah yang menunjukkan kedurhakaannya (ayat 33 – 42).
Masing-masing potongan surat ini dan ayat-ayatnya yang diketengahkan membangkitkan perasaan yang membekas di dalam jiwa.
Itulah di antara kekuatan dan kedalamannya, di mana hati dapat dipengaruhinya hanya dengan sekali sentuh saja. Di sini kami berusaha untuk menyingkapkan tentang beberapa aspek dari jangkauan yang jauh, yang kadang-kadang tidak dapat dicapai hanya dengan pandangan pertama.”
Tafsir Ayat 1 – 16 [3]
1. Asbabun Nuzul surat ‘Abasa
Banyak versi dalam menyebutkan sebab turunnya surat ‘Abasa, tetapi semua sepakat bahwa surat ini diturunkan berkaitan dengan seorang sahabat yang buta Abdullah bin Ummi Maktum. Pada suatu hari Rasulullah SAW sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy, di antaranya Ubay bin Khalaf (menurut Abu Ya’la), Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthallib (menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim). Beliau SAW ingin sekali agar mereka masuk Islam. Saat beliau berkhutbah dan mengajak mereka kepada kebenaran, tiba-tiba datang Abdullah bin Ummi Maktum—seorang yang telah lama masuk Islam—berdiri di hadapan beliau lalu bertanya tentang sesuatu dan ia mengulang-ulang pertanyaannya kepada Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW menginginkan seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak bertanya agar beliau berkesempatan untuk meneruskan khutbahnya kepada para pembesar Quraisy karena beliau amat bersemangat dalam memberi petunjuk kepada mereka. Maka saat itu beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum, dengan berkata, “Tahukah kamu behwa apa yang aku katakan ini amat penting?” (menurut hadits Aisyah ra) dan berpaling darinya lalu menghadap kepada yang lain. Maka diturunkanlah surat ini. Setelah itu Nabi SAW selalu menghormatinya.
2. Langkah-langkah Operasional Da’wah
Dari sini Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk tidak memberi pengkhususan kepada seseorang dalam memberikan peringatan. Beliau harus bersikap sama dalam berhadapan dengan orang yang mulia dan lemah, terhadap fakir dan kaya, pembesar dan rakyat jelata, pria dan wanita, yang kecil dan besar. Allah SWT memberi petunjuk kepada yang Dia kehendaki kepada jalan yang memuaskan.
Para ulama da’wah mengarahkan kepada kita lima langkah operasional da’wah agar da’wah mencapai keberhasilannya yang gemilang, yaitu [4]:
o Komunikasi/kontak dengan berbagai individu (personal) atau الإتّصال بالأفراد
o Pemilihan personal (إختيارالأفراد)
o Pembinaan personal (تربية الأفراد)
o Pengarahan personal (توجيه الأفراد)
o Penataan personal (تنظيم الأفراد)
Ketika berkomunikasi, tidak dibatasi kepada siapapun, bahkan kepada non-muslim sekalipun kita lakukan komunikasi. Akan tetapi, ketika kita melakukan pemilihan personal maka kriteria pertama dan utamanya adalah “mau menerima perubahan (قابل التغيير) atau hanif”, baru kriteria “sebagai unsur perubahan (عناصر التغيير) atau tokoh”. Abdullah bin Ummi Maktum, mungkin dipandang sebelah mata oleh umumnya para da’i, karena beliau buta (ayat 1): tidak potensial! Tetapi beliau adalah seorang yang mau menerima perubahan:
Datang sendiri (ayat 2)
Datang dengan bersegera (ayat 8)
Ingin membersihkan dirinya dari dosa (ayat 3)
Ingin mendapatkan pengajaran, sehingga bisa menjauhkan dirinya dari perbuatan haram (ayat 4)
Takut kepada Allah, mengikuti petunjuk (ayat 9)
Sedangkan para tokoh Quraisy itu:
Merasa dirinya sudah cukup dengan harta dan kekuasaannya (ayat 5)
Di kemudian hari, katika Perang Uhud, beliau SAW menempatkan Ibnu Ummi Maktum sebagai penanggung jawab kota Madinah terutama sebagai imam shalat jama’ah [5], juga sebagai muadzin di samping Bilal. Rasulullah SAW bersabda, “Jika Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari maka makanlah dan minumlah kalian hingga mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum” (HR. Bukhori). Salim berkata: ia tidak mengumandangkan adzan hingga orang-orang melihat terbitnya fajar lalu mereka berkata kepadanya adzan-lah.
3. Al-Qur’an sebagai Peringatan
Sikap lebih mengutamakan tokoh dan melupakan “orang rendahan” adalah terlarang (ayat 11). Karena sesungguhnya al-Qur’an itu peringatan untuk siapa saja. Siapa yang menghendaki, tentulah ia akan memperhatikan al-Qur’an (ayat 11-12). Al-Qur’an adalah:
Lembaran-lembaran yang dimuliakan (ayat 13)
Yang ditinggikan, memiliki derajat yang tinggi (ayat 14)
Yang disucikan, terhindar dari cacat, penambahan dan pengurangan (ayat 14)
Di tangan safarah (ayat 15):
o Para malaikat (Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid)
o Para sahabat Nabi SAW (Wahhab bin Munabih)
o Para penghafal al-Qur’an (Qatadah), yang menulis di dalam hati mereka (Ibnu Abbas dan Ibnu Jarir)
o Para malaikat yang menghubungkan Allah dengan makhlukNya (Ibnu Jarir dan Al-Bukhari). Dari sinilah terambil kata “as-safir” yang berarti duta (utusan) yang berusaha menjembatani hubungan antara manusia untuk kebaikan dan kedamaian
Akhlak safarah itu mulia dan berbakti (ayat 16): maka selayaknya para penghafal al-Qur’an itu bersikap baik dan menjadi teladan dalam kata-kata serta perbuatan mereka. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir, maka ia akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca al-Qur’an sementara ia mendapatkan kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Jama’ah). Siapakah orang yang “mahir” itu? Ustadz Yusuf Supendi [6] menyebutkan kriterianya:
o Membaca al-Qur’an dengan kaidah Tajwid
o Mengerti dan faham isi kandungan al-Qur’an
o Mengamalkan kandungan al-Qur’an
o Hafal al-Qur’an 30 juz
Tafsir Ayat 17 – 32 [3]
Selanjutnya, kembali Allah SWT membicarakan tentang hari akhir, yakni hari kebangkitan. Binasalah manusia: Apakah yang menjadikan seseorang itu kafir atau dusta kepada hari kebangkitan? (Al-Baghwani dari Muqatil dan al-Kalby) Sungguh alangkah terlaknatlah ia (Qatadah), ia adalah jenis manusia pendusta karena banyaknya ia melakukan kedustaan tanpa memiliki sandaran, bahkan ingin menjauhi kebenaran tanpa didasari pengetahuan (Abu Malik).
Allah SWT memberikan argumentasi dengan dua hal: penciptaan manusia (ayat 18-23) dan makanan yang dimakan manusia (ayat 24-32).
Dari apakah manusia diciptakan? Dari setetes air mani yang hina (77:20). Allah menciptakannya melalui tahapan-tahapan yang rumit: 250 juta sel sperma memancar dari sulbi laki-laki tapi yang berhasil bertemu dengan sel telur dari taraib perempuan hanya satu sel saja [8] lalu Allah menentukan ajalnya, rizkinya, perbuatannya dan baik-buruknya sebagaimana disebutkan dalam hadits ke-4 Arba’in An-Nawawi [7]. Kemudian Allah memudahkan jalannya (ayat 20):
o Memudahkan untuk keluar dari perut ibunya (Al-Aufi dari Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh-dahhak, Abu Shaleh, Qatadah dan As-Saddi)
o Sama dengan firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (76:3). Ini pendapat Mujahid, Al-Hasan dan Ibnu Zaid; ini pendapat yang kuat
Kemudian manusia mati dan dikuburkan serta membangkitkannya setelah kematian (ayat 21-22) sebagaimana disebutkan juga dalam surat 30:19-20 dan 2:259 (kisah tentang Nabi Uzair as atau Nabi Khidir as yang melewati Baitul Maqdis setelah dihancurkan oleh Bukhtanasar dan semua penduduknya dibunuh lalu salah seorang dari mereka, yakni Hizqil bin Bawar, dihidupkan lagi setelah mati selama 100 tahun [9]). Rasulullah SAW bersabda: “Tanah akan memakan seluruh bagian tubuh manusia kecuali tulang di bagian belakang dari tulang punggungnya,” para sahabat bertanya, “Bagaiamanakah bentuk dari tulang itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Seperti biji sawi dari tulang itulah kalian akan diciptakan kembali.” (HR. Bukhori-Muslim)
Allah SWT menegaskan bahwa manusia belum melaksanakan apa yang diperintahkanNya (ayat 23), maksudnya adalah:
o Orang kafir itu belum melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan kepadanya (Ibnu Jarir)
o Selama-lamanya seorang manusia tidak akan bisa menunaikan seluruh kewajibannya yang dibebankan kepadanya (Mujahid dan Al-Hasan)
o Untuk menghidupkan kembali tidak dilakukan sekarang hingga habis masa yang telah Allah takdirkan bagi manusia, dan Allah telah memerintahkan untuk terlaksananya takdir itu dan jika tiba masa yang ditentukan tersebut maka Allah akan membangkitkan dan mengembalikan manusia kepada bentuk semula (Ibnu Katsir). Telah diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Wahab bin Munabbih, ia berkata, berkata Uzai as: “Telah berkata Raja’ bin Haiwah yang datang kepadaku, ‘Sesungguhnya kuburan itu adalah perut bumi, dan sesungguhnya bumi itu adalah induk dari penciptaan, maka jika Allah menciptakan sesuatu yang Dia kehendaki kemudian sesuatu yang diciptakan itu akan binasa bersamaan dengan habisnya masa para penghuni kubur di dalam kuburnya sesuai dengan waktu yang telah Allah tentukan, bumi akan memuntahkan semua isinya dan kuburan akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya’.”
Kemudian Allah SWT menampilkan argumentasi kedua tentang kebangkitan: makanan yang dimakan manusia yang berasal dari bumi yang tumbuh dari padanya berbagai macam tanaman yang bisa dimakan manusia dan binatang. Allah-lah yang telah menurunkan air, kemudian air itu masuk ke celah-celah biji-bijian yang ada di dalam bumi, lalu biji-bijian (al-habbu) itu tumbuh dan tinggi hingga nampak ke permukaan bumi. Juga ditumbuhkan buah anggur (al-‘inabu), al-qadhbu: makanan binatang (Al-Hasan) atau rerumputan yang biasanya dimakan binatang dalam keadaan basah (Ibnu Abbas, Qatadah, Adh-Dhahhak dan As-saddi), zaitun (kulit yang diperas kemudian air perasannya dapat menjadi minyak untuk lentera) dan nakhlun (korma yang dapat dimakan selagi basah atau kering atau dalam keadaan mentah dimasak kemudian diperas untuk diminum airnya dan sisa perasannya dapat dimakan pula). Allah menciptakan kebun-kebun yang ghulba:
o Tebal dan banyak buahnya (Al-Hasan dan Qatadah)
o Segala sesuatu yang mengelilingi dan berkumpul (Ibnu Abbas dan Mujahid)
o Pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh (Ibnu Abbas)
o Kebun-kebun yang pohon-pohonnya besar dan panjang (Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas)
o Pohon yang tebal di tengah-tengahnya (Ikrimah)
Allah menjadikan al-fakihah dan al-abbu. Al-fakihah adalah:
o Segala sesuatu yang mendatangkan kesenangan dari buah-buahan
o Segala sesuatu yang dimakan dalam keadaan basah (Ibnu Abbas)
o Untuk anak Adam (Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah dari Ibnu Zaid)
Sedangkan al-abbu adalah:
o Segala sesuatu yang tumbuh dari bumi yang dimakan hewan dan tidak dimakan manusia (Ibnu Abbas)
o Al-kala’u: rumput basah atau kering (Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Abu Malik)
o Untuk hewan (Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah dari Ibnu Zaid)
o Segala sesuatu yang tumbuh di permukaan bumi (‘Atha)
o Segala yang tumbuh di bumi selain buah-buahan (Adh-Dhahhak)
o Tumbuhan bumi yang dimakan manusia (Ibnu Idris)
o Segala sesuatu yang tumbuh dari bumi yang dimakan manusia dan hewan (Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas)
o Rumput basah dan kering serta tempat menggembala hewan (Al-Aufi dari Ibnu Abbas)
Umar bin Khththab ra membaca surat Abasa wa tawalla dan ketika ia sampai pada ayat ini: wa fakihatan wa abba ia berkata, ‘Kami telah mengetahui maksud dari al-fakihah lalu apakah arti al-abb? Maka dijawab, “Wahai putra Al-Khaththab, sesungguhnya inilah yang kemerah-merahan warnanya.” Rupanya ia ingin mengetahui bentuknya, jenis dan zatnya.
Semua tanaman itu adalah untuk manusia dan hewan-hewan ternak yang dimiliki oleh manusia di dunia hingga hari kiamat (ayat 32).
Tafsir Ayat 33 – 42 [3]
Allah SWT di akhir surat ini kembali menceritakan tentang peristiwa kiamat: bagaimana hubungan keluarga manusia dan wajah-wajah manusia di hari itu. Apabila datang ash-shakhkhakh:
o Salah satu nama hari kiamat (Ibnu Abbas)
o Nama dari tiupan sangkakala (Ibnu Jarir)
o Jeritan pada hari kiamat, dinamakan demikian harena suara itu memekakkan telinga karena amat kencangnya hingga dapat membuat telinga menjadi tuli (Al-Baghawi)
Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Ia melihat mereka dan ia menjauh dari mereka karena keadaan saat itu amat menakutkan dan amat menyulitkan. Ikrimah berkata: “Seorang pria berkata kepada istrinya: Wahai istriku, suami macam apakah aku ini? Sang istri berkata: Engkau adalah suami yang baik dan selalu berbuat baik semampumu. Sang suami berkata: Pada hari ini aku minta kebaikan darimu, semoga aku bisa selamat dari apa yang engkau lihat saat ini. Sang istri berkata: Alangkah mudahnya permintaanmu karena aku merasa takut sebagaimana engkau merasa takut.” Begitu pula ia akan bergantung kepada anaknya, tapi anaknya menolaknya. Bahkan seseorang akan menebusnya (agar selamat) dengan anak-anaknya, istri, saudaranya dan kaum familinya serta semua manusia di atas bumi (al-Ma’arij: 11-14). Sesungguhnya pada hari itu tidak bisa saling memberi manfaat (Lukman: 33): anak kepada orang tuanya dan sebaliknya. Juga tidak bisa para Nabi memberi syafaat kepada manusia lainnya, kecuali yang diidzinkan Allah.
Pada hari itu manusia sibuk masing-masing, kesibukan amat sangat sehingga tidak berkesempatan untuk melihat aurat. Pada hari itu manusia dikumpulkan dalam keadaan:
o tidak bersunat
o tidak beralas kaki
o tidak berpakaian
o dibanjiri oleh keringat hingga sampai ke telinga
Pada hari itu manusia terbagi menjadi dua, yang terlihat dari wajah-wajah mereka (ini harmonis dengan awal surat ini yang menceritakan tentang “wajah” Rasulullah):
o Musfirah atau mustanfirah (bercahaya atau berseri-seri), tertawa dan bergembira ria. Itulah para penghuni surga. Ini seperti dalam surat Ali Imran: 107 dan Al-Qiyamah:22-23
o Ghabarah (tertutup debu), menutupi wajahnya yang hitam (juga disebutkan pada 3:106 dan Al-Qiyamah: 24-25). Itulah wajah orang yang kafir lagi durhaka. Kekufuran memenuhi hati mereka dan kemaksiatan mewarnai seluruh perbuatan mereka seperti di ayat lain: “Dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir” (71:27)
Maroji’
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2. Qutb, Sayyid, Fi Zhilaalil Qur’an Juz Amma – Tafsir Di Bawah Naungan Al-Qur’an, H. Bey Arifin & Jamaluddin Kafie (Penerjemah), 1984, Bina Ilmu, Surabaya
3. Ibnu Katsir (Mufassir), Khalid bin Musthafa Salim Abu Shaleh (Muhaqqiq), Farizal Tirmizi (Penerjemah), Tafsir Juz Amma, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Cetakan Keenam, November 2004
4. Materi “At-Tashawwur Al-Harakah Al-Islami”
5. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1997
6. Catatan Dauroh Al-Qur’an Ma’had Al-Hikmah, Bangka II, Jaksel
7. Al-Bugha, Musthafa, dan Muhyiddin Misto, Pokok-pokok Ajaran Islam: Syarah Arbain Nawawiyah, Robbani Press, Jakarta, 2002
8. Rasheed, Abdur, Nurcholiq dan Bharata AD, Pengantar Film Pengetahuan Populer Harunyahya Series, Global Cipta Publishing, Jakarta, 2002, halaman 1 – 22
9. Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail, Tafsir Ibnu Kasir Juz 3: Al-Baqarah 253 s.d. Ali Imran 91, Halaman 60-66, Sinar Baru Algensindo, Bandung 2002
Bojonggede, 24 Maret 2005
Abdul Wahid Surhim
Disampaikan pada acara Kajian Tafsir Juz 30 di Masjid Al-Muhajirin Komplek Gaperi Bojong Gede – Ahad, 27 Maret 2005
Tafsir Surat ‘Abasa (80)
Muqoddimah
Surat ‘Abasa (ia bermuka masam) terdiri dari 42 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan setelah surat An-Najm (53). Dinamai “Abasa” diambil dari perkataan ‘Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini [1].
Hubungan surat ‘Abasa dengan surat An-Nazi’at adalah: pada akhir surat An-Nazi’at diterangkan bahwa Nabi Muhammad SAW hanyalah pemberi peringatan kepada orang-orang yang takut kepada hari kiamat (79:45), sedangkan pada permulaan surat ‘Abasa dibayangkan bahwa dalam memberikan peringatan itu hendaklah memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi peringatan dengan tidak memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat [1].
Tentang garis besar isi surat ‘Abasa, Asy-Syahid Sayyid Quthb berkomentar [2]:
“Surat ini terbagi kedalam beberapa potongan (bagian) yang besar, sentuhan yang mendalam, image dan sugesti serta kesan-kesan yang unik, memberi inspirasi harmonis dalam irama dan nada musik yang sama. Potongan pertama merupakan obat dengan khasiat tertentu terhadap suatu peristiwa sejarah.
Nabi Muhammad SAW sibuk mengurusi da’wah, mengajak tokoh-tokoh Quraisy kedalam Islam ketika Ibnu Ummi Maktum, seorang laki-laki buta yang miskin itu, datang kepadanya. Laki-laki itu tidak tahu kalau Nabi sedang sibuk dengan urusan ummat. Ia datang memohon kepada Nabi agar mengajarinya ilmu agama. Maka Nabi tidak menyukainya dan bermuka masam serta memalingkan wajahnya. Allah menurunkan al-Qur’an pada bagian pertama surah ini mengecam keras akan sikap Nabi, serta menetapkan nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat Islam secara tegas merangsang, di samping itu juga menetapkan hakikat karakteristik da’wah ini (ayat 1 – 16).
Potongan kedua untuk mengobati keingkaran manusia, kekafiran dan kejahatannya terhadap Tuhannya. Allah mengingatkan kepada manusia siapa yang mewujudkan dirinya, asal kejadiannya, kemudahan hidupnya, kekuasaan Tuhannya untuk mematikan dan membangkitkannya kembali, kemudian kelalaiannya dalam melaksanakan perintahNya (ayat 17 – 23).
Potongan ketiga menyinggung tentang kecenderungan hati manusia terhadap kebutuhan hidupnya, yaitu makanan dan minumannya, serta makanan dan minuman binatang ternaknya. Di balik itu mengenai ketentuan serta kekuasaan Allah yang mengatur dan mengurus makanannya itu sebagaimana mengatur dan mengurus kejadian dirinya (ayat 24 – 32).
Potongan yang paling akhir menoleh kepada sifat “sangkakala” pada hari ditiupkan suaranya yang memakakkan telinga, dan menakutkan itu. Kata-katanya jelas seperti pengaruhnya yang nampak di dalam hati manusia yang kebingungan, lupa terhadap lainnya dan kepada wajah-wajah yang menunjukkan kedurhakaannya (ayat 33 – 42).
Masing-masing potongan surat ini dan ayat-ayatnya yang diketengahkan membangkitkan perasaan yang membekas di dalam jiwa.
Itulah di antara kekuatan dan kedalamannya, di mana hati dapat dipengaruhinya hanya dengan sekali sentuh saja. Di sini kami berusaha untuk menyingkapkan tentang beberapa aspek dari jangkauan yang jauh, yang kadang-kadang tidak dapat dicapai hanya dengan pandangan pertama.”
Tafsir Ayat 1 – 16 [3]
1. Asbabun Nuzul surat ‘Abasa
Banyak versi dalam menyebutkan sebab turunnya surat ‘Abasa, tetapi semua sepakat bahwa surat ini diturunkan berkaitan dengan seorang sahabat yang buta Abdullah bin Ummi Maktum. Pada suatu hari Rasulullah SAW sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy, di antaranya Ubay bin Khalaf (menurut Abu Ya’la), Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthallib (menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim). Beliau SAW ingin sekali agar mereka masuk Islam. Saat beliau berkhutbah dan mengajak mereka kepada kebenaran, tiba-tiba datang Abdullah bin Ummi Maktum—seorang yang telah lama masuk Islam—berdiri di hadapan beliau lalu bertanya tentang sesuatu dan ia mengulang-ulang pertanyaannya kepada Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW menginginkan seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak bertanya agar beliau berkesempatan untuk meneruskan khutbahnya kepada para pembesar Quraisy karena beliau amat bersemangat dalam memberi petunjuk kepada mereka. Maka saat itu beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum, dengan berkata, “Tahukah kamu behwa apa yang aku katakan ini amat penting?” (menurut hadits Aisyah ra) dan berpaling darinya lalu menghadap kepada yang lain. Maka diturunkanlah surat ini. Setelah itu Nabi SAW selalu menghormatinya.
2. Langkah-langkah Operasional Da’wah
Dari sini Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk tidak memberi pengkhususan kepada seseorang dalam memberikan peringatan. Beliau harus bersikap sama dalam berhadapan dengan orang yang mulia dan lemah, terhadap fakir dan kaya, pembesar dan rakyat jelata, pria dan wanita, yang kecil dan besar. Allah SWT memberi petunjuk kepada yang Dia kehendaki kepada jalan yang memuaskan.
Para ulama da’wah mengarahkan kepada kita lima langkah operasional da’wah agar da’wah mencapai keberhasilannya yang gemilang, yaitu [4]:
o Komunikasi/kontak dengan berbagai individu (personal) atau الإتّصال بالأفراد
o Pemilihan personal (إختيارالأفراد)
o Pembinaan personal (تربية الأفراد)
o Pengarahan personal (توجيه الأفراد)
o Penataan personal (تنظيم الأفراد)
Ketika berkomunikasi, tidak dibatasi kepada siapapun, bahkan kepada non-muslim sekalipun kita lakukan komunikasi. Akan tetapi, ketika kita melakukan pemilihan personal maka kriteria pertama dan utamanya adalah “mau menerima perubahan (قابل التغيير) atau hanif”, baru kriteria “sebagai unsur perubahan (عناصر التغيير) atau tokoh”. Abdullah bin Ummi Maktum, mungkin dipandang sebelah mata oleh umumnya para da’i, karena beliau buta (ayat 1): tidak potensial! Tetapi beliau adalah seorang yang mau menerima perubahan:
Datang sendiri (ayat 2)
Datang dengan bersegera (ayat 8)
Ingin membersihkan dirinya dari dosa (ayat 3)
Ingin mendapatkan pengajaran, sehingga bisa menjauhkan dirinya dari perbuatan haram (ayat 4)
Takut kepada Allah, mengikuti petunjuk (ayat 9)
Sedangkan para tokoh Quraisy itu:
Merasa dirinya sudah cukup dengan harta dan kekuasaannya (ayat 5)
Di kemudian hari, katika Perang Uhud, beliau SAW menempatkan Ibnu Ummi Maktum sebagai penanggung jawab kota Madinah terutama sebagai imam shalat jama’ah [5], juga sebagai muadzin di samping Bilal. Rasulullah SAW bersabda, “Jika Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari maka makanlah dan minumlah kalian hingga mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum” (HR. Bukhori). Salim berkata: ia tidak mengumandangkan adzan hingga orang-orang melihat terbitnya fajar lalu mereka berkata kepadanya adzan-lah.
3. Al-Qur’an sebagai Peringatan
Sikap lebih mengutamakan tokoh dan melupakan “orang rendahan” adalah terlarang (ayat 11). Karena sesungguhnya al-Qur’an itu peringatan untuk siapa saja. Siapa yang menghendaki, tentulah ia akan memperhatikan al-Qur’an (ayat 11-12). Al-Qur’an adalah:
Lembaran-lembaran yang dimuliakan (ayat 13)
Yang ditinggikan, memiliki derajat yang tinggi (ayat 14)
Yang disucikan, terhindar dari cacat, penambahan dan pengurangan (ayat 14)
Di tangan safarah (ayat 15):
o Para malaikat (Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid)
o Para sahabat Nabi SAW (Wahhab bin Munabih)
o Para penghafal al-Qur’an (Qatadah), yang menulis di dalam hati mereka (Ibnu Abbas dan Ibnu Jarir)
o Para malaikat yang menghubungkan Allah dengan makhlukNya (Ibnu Jarir dan Al-Bukhari). Dari sinilah terambil kata “as-safir” yang berarti duta (utusan) yang berusaha menjembatani hubungan antara manusia untuk kebaikan dan kedamaian
Akhlak safarah itu mulia dan berbakti (ayat 16): maka selayaknya para penghafal al-Qur’an itu bersikap baik dan menjadi teladan dalam kata-kata serta perbuatan mereka. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir, maka ia akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca al-Qur’an sementara ia mendapatkan kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Jama’ah). Siapakah orang yang “mahir” itu? Ustadz Yusuf Supendi [6] menyebutkan kriterianya:
o Membaca al-Qur’an dengan kaidah Tajwid
o Mengerti dan faham isi kandungan al-Qur’an
o Mengamalkan kandungan al-Qur’an
o Hafal al-Qur’an 30 juz
Tafsir Ayat 17 – 32 [3]
Selanjutnya, kembali Allah SWT membicarakan tentang hari akhir, yakni hari kebangkitan. Binasalah manusia: Apakah yang menjadikan seseorang itu kafir atau dusta kepada hari kebangkitan? (Al-Baghwani dari Muqatil dan al-Kalby) Sungguh alangkah terlaknatlah ia (Qatadah), ia adalah jenis manusia pendusta karena banyaknya ia melakukan kedustaan tanpa memiliki sandaran, bahkan ingin menjauhi kebenaran tanpa didasari pengetahuan (Abu Malik).
Allah SWT memberikan argumentasi dengan dua hal: penciptaan manusia (ayat 18-23) dan makanan yang dimakan manusia (ayat 24-32).
Dari apakah manusia diciptakan? Dari setetes air mani yang hina (77:20). Allah menciptakannya melalui tahapan-tahapan yang rumit: 250 juta sel sperma memancar dari sulbi laki-laki tapi yang berhasil bertemu dengan sel telur dari taraib perempuan hanya satu sel saja [8] lalu Allah menentukan ajalnya, rizkinya, perbuatannya dan baik-buruknya sebagaimana disebutkan dalam hadits ke-4 Arba’in An-Nawawi [7]. Kemudian Allah memudahkan jalannya (ayat 20):
o Memudahkan untuk keluar dari perut ibunya (Al-Aufi dari Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh-dahhak, Abu Shaleh, Qatadah dan As-Saddi)
o Sama dengan firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (76:3). Ini pendapat Mujahid, Al-Hasan dan Ibnu Zaid; ini pendapat yang kuat
Kemudian manusia mati dan dikuburkan serta membangkitkannya setelah kematian (ayat 21-22) sebagaimana disebutkan juga dalam surat 30:19-20 dan 2:259 (kisah tentang Nabi Uzair as atau Nabi Khidir as yang melewati Baitul Maqdis setelah dihancurkan oleh Bukhtanasar dan semua penduduknya dibunuh lalu salah seorang dari mereka, yakni Hizqil bin Bawar, dihidupkan lagi setelah mati selama 100 tahun [9]). Rasulullah SAW bersabda: “Tanah akan memakan seluruh bagian tubuh manusia kecuali tulang di bagian belakang dari tulang punggungnya,” para sahabat bertanya, “Bagaiamanakah bentuk dari tulang itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Seperti biji sawi dari tulang itulah kalian akan diciptakan kembali.” (HR. Bukhori-Muslim)
Allah SWT menegaskan bahwa manusia belum melaksanakan apa yang diperintahkanNya (ayat 23), maksudnya adalah:
o Orang kafir itu belum melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan kepadanya (Ibnu Jarir)
o Selama-lamanya seorang manusia tidak akan bisa menunaikan seluruh kewajibannya yang dibebankan kepadanya (Mujahid dan Al-Hasan)
o Untuk menghidupkan kembali tidak dilakukan sekarang hingga habis masa yang telah Allah takdirkan bagi manusia, dan Allah telah memerintahkan untuk terlaksananya takdir itu dan jika tiba masa yang ditentukan tersebut maka Allah akan membangkitkan dan mengembalikan manusia kepada bentuk semula (Ibnu Katsir). Telah diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Wahab bin Munabbih, ia berkata, berkata Uzai as: “Telah berkata Raja’ bin Haiwah yang datang kepadaku, ‘Sesungguhnya kuburan itu adalah perut bumi, dan sesungguhnya bumi itu adalah induk dari penciptaan, maka jika Allah menciptakan sesuatu yang Dia kehendaki kemudian sesuatu yang diciptakan itu akan binasa bersamaan dengan habisnya masa para penghuni kubur di dalam kuburnya sesuai dengan waktu yang telah Allah tentukan, bumi akan memuntahkan semua isinya dan kuburan akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya’.”
Kemudian Allah SWT menampilkan argumentasi kedua tentang kebangkitan: makanan yang dimakan manusia yang berasal dari bumi yang tumbuh dari padanya berbagai macam tanaman yang bisa dimakan manusia dan binatang. Allah-lah yang telah menurunkan air, kemudian air itu masuk ke celah-celah biji-bijian yang ada di dalam bumi, lalu biji-bijian (al-habbu) itu tumbuh dan tinggi hingga nampak ke permukaan bumi. Juga ditumbuhkan buah anggur (al-‘inabu), al-qadhbu: makanan binatang (Al-Hasan) atau rerumputan yang biasanya dimakan binatang dalam keadaan basah (Ibnu Abbas, Qatadah, Adh-Dhahhak dan As-saddi), zaitun (kulit yang diperas kemudian air perasannya dapat menjadi minyak untuk lentera) dan nakhlun (korma yang dapat dimakan selagi basah atau kering atau dalam keadaan mentah dimasak kemudian diperas untuk diminum airnya dan sisa perasannya dapat dimakan pula). Allah menciptakan kebun-kebun yang ghulba:
o Tebal dan banyak buahnya (Al-Hasan dan Qatadah)
o Segala sesuatu yang mengelilingi dan berkumpul (Ibnu Abbas dan Mujahid)
o Pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh (Ibnu Abbas)
o Kebun-kebun yang pohon-pohonnya besar dan panjang (Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas)
o Pohon yang tebal di tengah-tengahnya (Ikrimah)
Allah menjadikan al-fakihah dan al-abbu. Al-fakihah adalah:
o Segala sesuatu yang mendatangkan kesenangan dari buah-buahan
o Segala sesuatu yang dimakan dalam keadaan basah (Ibnu Abbas)
o Untuk anak Adam (Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah dari Ibnu Zaid)
Sedangkan al-abbu adalah:
o Segala sesuatu yang tumbuh dari bumi yang dimakan hewan dan tidak dimakan manusia (Ibnu Abbas)
o Al-kala’u: rumput basah atau kering (Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Abu Malik)
o Untuk hewan (Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah dari Ibnu Zaid)
o Segala sesuatu yang tumbuh di permukaan bumi (‘Atha)
o Segala yang tumbuh di bumi selain buah-buahan (Adh-Dhahhak)
o Tumbuhan bumi yang dimakan manusia (Ibnu Idris)
o Segala sesuatu yang tumbuh dari bumi yang dimakan manusia dan hewan (Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas)
o Rumput basah dan kering serta tempat menggembala hewan (Al-Aufi dari Ibnu Abbas)
Umar bin Khththab ra membaca surat Abasa wa tawalla dan ketika ia sampai pada ayat ini: wa fakihatan wa abba ia berkata, ‘Kami telah mengetahui maksud dari al-fakihah lalu apakah arti al-abb? Maka dijawab, “Wahai putra Al-Khaththab, sesungguhnya inilah yang kemerah-merahan warnanya.” Rupanya ia ingin mengetahui bentuknya, jenis dan zatnya.
Semua tanaman itu adalah untuk manusia dan hewan-hewan ternak yang dimiliki oleh manusia di dunia hingga hari kiamat (ayat 32).
Tafsir Ayat 33 – 42 [3]
Allah SWT di akhir surat ini kembali menceritakan tentang peristiwa kiamat: bagaimana hubungan keluarga manusia dan wajah-wajah manusia di hari itu. Apabila datang ash-shakhkhakh:
o Salah satu nama hari kiamat (Ibnu Abbas)
o Nama dari tiupan sangkakala (Ibnu Jarir)
o Jeritan pada hari kiamat, dinamakan demikian harena suara itu memekakkan telinga karena amat kencangnya hingga dapat membuat telinga menjadi tuli (Al-Baghawi)
Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Ia melihat mereka dan ia menjauh dari mereka karena keadaan saat itu amat menakutkan dan amat menyulitkan. Ikrimah berkata: “Seorang pria berkata kepada istrinya: Wahai istriku, suami macam apakah aku ini? Sang istri berkata: Engkau adalah suami yang baik dan selalu berbuat baik semampumu. Sang suami berkata: Pada hari ini aku minta kebaikan darimu, semoga aku bisa selamat dari apa yang engkau lihat saat ini. Sang istri berkata: Alangkah mudahnya permintaanmu karena aku merasa takut sebagaimana engkau merasa takut.” Begitu pula ia akan bergantung kepada anaknya, tapi anaknya menolaknya. Bahkan seseorang akan menebusnya (agar selamat) dengan anak-anaknya, istri, saudaranya dan kaum familinya serta semua manusia di atas bumi (al-Ma’arij: 11-14). Sesungguhnya pada hari itu tidak bisa saling memberi manfaat (Lukman: 33): anak kepada orang tuanya dan sebaliknya. Juga tidak bisa para Nabi memberi syafaat kepada manusia lainnya, kecuali yang diidzinkan Allah.
Pada hari itu manusia sibuk masing-masing, kesibukan amat sangat sehingga tidak berkesempatan untuk melihat aurat. Pada hari itu manusia dikumpulkan dalam keadaan:
o tidak bersunat
o tidak beralas kaki
o tidak berpakaian
o dibanjiri oleh keringat hingga sampai ke telinga
Pada hari itu manusia terbagi menjadi dua, yang terlihat dari wajah-wajah mereka (ini harmonis dengan awal surat ini yang menceritakan tentang “wajah” Rasulullah):
o Musfirah atau mustanfirah (bercahaya atau berseri-seri), tertawa dan bergembira ria. Itulah para penghuni surga. Ini seperti dalam surat Ali Imran: 107 dan Al-Qiyamah:22-23
o Ghabarah (tertutup debu), menutupi wajahnya yang hitam (juga disebutkan pada 3:106 dan Al-Qiyamah: 24-25). Itulah wajah orang yang kafir lagi durhaka. Kekufuran memenuhi hati mereka dan kemaksiatan mewarnai seluruh perbuatan mereka seperti di ayat lain: “Dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir” (71:27)
Maroji’
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2. Qutb, Sayyid, Fi Zhilaalil Qur’an Juz Amma – Tafsir Di Bawah Naungan Al-Qur’an, H. Bey Arifin & Jamaluddin Kafie (Penerjemah), 1984, Bina Ilmu, Surabaya
3. Ibnu Katsir (Mufassir), Khalid bin Musthafa Salim Abu Shaleh (Muhaqqiq), Farizal Tirmizi (Penerjemah), Tafsir Juz Amma, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Cetakan Keenam, November 2004
4. Materi “At-Tashawwur Al-Harakah Al-Islami”
5. Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1997
6. Catatan Dauroh Al-Qur’an Ma’had Al-Hikmah, Bangka II, Jaksel
7. Al-Bugha, Musthafa, dan Muhyiddin Misto, Pokok-pokok Ajaran Islam: Syarah Arbain Nawawiyah, Robbani Press, Jakarta, 2002
8. Rasheed, Abdur, Nurcholiq dan Bharata AD, Pengantar Film Pengetahuan Populer Harunyahya Series, Global Cipta Publishing, Jakarta, 2002, halaman 1 – 22
9. Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Ismail, Tafsir Ibnu Kasir Juz 3: Al-Baqarah 253 s.d. Ali Imran 91, Halaman 60-66, Sinar Baru Algensindo, Bandung 2002
Bojonggede, 24 Maret 2005
Abdul Wahid Surhim
Disampaikan pada acara Kajian Tafsir Juz 30 di Masjid Al-Muhajirin Komplek Gaperi Bojong Gede – Ahad, 27 Maret 2005
Minggu, 17 Februari 2008
Kajian Tafsir Juz 30 ( Surat An-Naba’ (78) )
Muqoddimah
Surat An-Naba’ terdiri dari 40 ayat, termasuk kedalam golongan surat-surat Makkiyah. Diturunkan sesudah surat Al-Ma’arij (70). Disebut juga surat “’Amma yatasaa-aluun” [1].
Garis besar isinya adalah sebagai-berikut[2]:
• Disebut surat An-Naba’ yang berarti berita besar karena di dalamnya mengandung berita tentang kiamat, kebangkitan (ba’ats), dan orbit surat ini adalah sekitar “akidah kebangkitan” yang selalu diingkari orang-orang musyrik (Makkah).
• Surat yang mulia ini dimulai dengan berita bertemakan kiamat, kebangkitan dan pembalsan. Tema ini menyibukkan pikiran mayoritas orang-orang kafir Mekkah, hingga terlihat siapa yang membenarkan dan yang mendustakan (ayat 1 – 5)
• Kemudian ditegakkan dalil-dalil dan bukti-bukti kekuasaan Rabbul ‘alamin, yang mampu menciptakan berbagai keajaiban. Ini tidak melemahkan Allah untuk mengembalikan penciaptaan manusia dari ketiadaannya (ayat 6 – 16)
• Kemudian diakhiri setelah itu dengan mengingatkan akan kebangkitan, ketentuan waktunya dan janji-janjiNya. Itulah yaumul fashl (hari keputusan) antar-hamba, saat Allah mengumpulkan manusia dari yang pertama sampai yang terakhir untuk dihisab (ayat 17 – 20)
• Kemudian menceritakan tentang neraka Jahannam yang Allah ancamkan kepada orang-orang kafir, beserta apa yang ada di dalamnya dari berbagai jenis siksa yang menghinakan (ayat 21 – 30)
• Setelah menceritakan tentang orang-orang kafir, kemudian menceritakan tentang orang-orang mukmin dan apa yang dijanjikan Allah Ta’ala bagi mereka dari berbagai kenikmatan. Itulah metode Qur’an, yakni menggabungkan antara tarhib wat-targhib (ayat 31 – 36)
• Surat yang mulia ini ditutup dengan menceritakan tentang suasana hari kiamat, saat orang-orang kafir menginginkan seandainya Allah menjadikan dirinya tanah, maka tidak akan dikumpulkan dan dihisab (ayat 37 – 40).
Sayyid Qutb[3] berkomentar terhadap surat ini sebagai berikut:
“Surat ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang timbul dari arus pertentangan di kalangan manusia mengenai suatu “hakikat” yang masih mereka pertengkarkan kebenarannya, yaitu “berita besar” yang tidak mustahil lagi, suatu yang pasti tanpa diragukan lagi, karena berita besar itu apabila mereka alami sendiri hakikatnya nanti, akan berakibat fatal bagi mereka sendiri (ayat 1 – 5).
Maka dari itu, kontek pembicaraan tentang berita besar itu ditinggalkan sementara sampai datang waktunya untuk dibicarakan lagi, sampai kenyataan terjadi di hadapan atau di sekitar mereka, baik yang berkenaan dengan kejadian alam, kehidupan, maupun dalam arti mereka sendiri (ayat 6 – 16).
Dari kumpulan ini—hakikat, pemandangan, penggambaran dan simponi—semuanya membawa mereka kepada berita besar yang mereka perselisihkan tentang ini, dan berakibat fatal bagi mereka setelah mereka mengetahuinya! Kepada mereka dikatakan, ‘Apa itu, dan bagaimana?’ (ayat 17 – 20)
Kemudian dipertontonkan adzab dengan segala kekerasan dan kehebatannya (ayat 21 – 30), dan tentang kenikmatan yang tercurah itu (ayat 31 – 36).
Surat ini diakhiri dengan simponi yang agung, di dalam hakikat dan di dalam persaksian yang diketengahkannya, berikut peringatan dan pengajaran hari yang pasti itu terjadi (ayat 37 – 40).
Itulah “berita besar” yang dipertanyakan oleh mereka. Dan itulah peristiwa yang pasti akan terjadi, pada waktu itu mereka menyaksikan sendiri berita besar itu!”
Tafsir Ayat 1 – 16[4]
Allah SWT berfirman dalam ayat-ayat ini untuk membantah dengan keras terhadap pertanyaan orang-orang musyrik yang mengingkari terjadinya hari kiamat. Ayat 1-2 mengandung arti tentang sesuatu apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang perkara hari kebangkitan dan itu adalah suatu berita yang besar, yaitu berita yang menakutkan, mengejutkan, dan dahsyat. Ada dua pendapat tentang arti “berita besar” itu:
• Qatadah dan Ibnu Zaid: hari kebangkitan setelah kematian
• Mujahid: Al-Qur’an
Yang benar adalah pendapat yang pertama.
Ayat 3: bahwa manusia dalam menghadapi berita ini terbagi kedalam dua golongan: yang percaya dan yang mengingkari. Kepada yang mengingkarinya Allah mengancam, “Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui.” Ini adalah ancaman yang keras dan janji yang amat dikuatkan.
Allah segera menerangkan kemampuanNya yang amat hebat dalam menciptakan segala sesuatu yang aneh, serta perkara-perkara yang ajaib yang menunjukkan kemampuanNya dalam melaksanakan segala sesuatu yang Dia kehendaki pada urusan-urusan akhirat, dll:
• bumi disediakan untuk semua makhluk sebagai tempat tinggal yang tetap,
• gunung-gunung dijadikan sebagai pasak yang berfungsi untuk menancapkan bumi agar tidak bergerak sehingga tidak menggoncangkan makhluk-makhluk Allah yang ada di atasnya.
• diciptakanNya laki-laki dan perempuan yang satu sama lainnya dapat saling menikmati sehingga menghasilkan keturunan dengan kenikmatan itu (30:21)
• tidur sebagai istirahat: berhenti dari bergerak untuk mendapatkan istirahat setelah banyak bekerja berbuat mencari penghidupan sepanjang hari (25:47)
• malam sebagai pakaian: kegelapan dan hitamnya malam menyelimuti manusia (92:1). Qatadah mengartikan libaasaa dengan ketenangan (sakanaa)
• siang bercahaya untuk memungkinkan manusia berusaha, pergi, bekerja, berniaga, dll
• tujuh buah langit adalah langit yang luas, tinggi, diciptakan dengan bijaksana serta amat teliti kemudian dihiasi dengan bintang-bintang yang berdiam dan yang bergerak
• matahari menyinari seluruh alam yang mana sinarnya dapat menerangi seluruh penduduk bumi seluruhnya
• diturunkan dari awan (al-mu’shirat) air yang banyak tercurah (tsajjaajaa). Al-mu’shirat berarti
o Ibnu Abbas, Ikrimah, Catada, Muqatil, Al-Kalby, Zaid bin Aslam dan anaknya Abdurrahman: angin (ar-riyah)
o Ibnu Abbas, Ikrimah, Abul ‘Aliyah, Adh-Dhahhak, Al-Hasan, Ar-Rabi’ bin Anas, Ats-Tsauri dan Ibnu Parir: awan (as-sahaab)
o Al-Farra’: awan yang di dalamnya terdapat air hujan dan air hujan itu belum turun, seperti perkataan imra’ah mu’shir, yaitu wanita yang telah dekat masa haidnya akan tetapi belum haid
o Al-Hasan dan Qatadah: dari langit (minas samaawaati). Tapi ini pendapat aneh
Pendapat yang benar adalah awan (30:48): keluar dari celah-celahnya, yaitu celah awan. Sedangkan tsajjaajaa berarti:
o Mujahid, Qatadah, dan Rabi’bin Anas: tercurah (munshabbaa)
o Ats-Tsauri: terus-menerus (mutatabi’an)
o Ibnu Zaid: banyak (katsiiraa)
Ibnu Jarir: “Dalam pembicaraan Bangsa Arab, tidak ada istilah banyak turun hujan, akan tetapi istilah yang dipakai adalah air hujan tercurah terus-menerus.” Seperti sabda Rasul SAW, أفضل الحج العِجُّ والثج (sebaik-baik haji adalah dengan mengangkat suara tinggi-tinggi dan berpeluh keringat). Sabda Rasul SAW kepada wanita (Hammah binti Jahsy) yang sedang haid agar membersihkannya dengan kapas, maka wanita itu berkata bahwa darahnya akan lebih banyak lagi bahkan اََثََجُّ ثَجًّا (curahan air yang banyak dan terus-menerus)
• dari air hujan itu ditumbuhkan habbaa (biji-bijian yang disimpan untuk manusia dan binatang) dan nabaataa (sayur-mayur yang dimakan dalam keadaan segar) serta jannaatin (kebun-kebun dan taman-taman beserta buah-buahannya dengan berbagai macam bentuk, rupa, warna, serta aroma rasa yang beraneka ragam), semua buah-buahan itu tumbuh di satu tempat yaitu di bumi secara alfaafaa yang berarti mujtama’an (berkelompok) 13:4
Tafsir Ayat 17 – 30[4]
Allah mengabarkan bahwa hari keputusan (kebangkitan) datangnya telah ditetapkan waktunya, tidak bisa ditunda dan tidak bisa pula dipercepat serta tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui dengan pasti kecuali Allah ‘Azza wajalla (11:104). Ketika itu manusia datang secara afwaajaa yang berarti:
• Mujahid: berkelompok-kelompok (zamran-zamran)
• Ibnu Jarir: setiap Amat datang bersama Nabi mereka (17:71)
Rasulullah SAW bersabda: Waktu dua tiupan adalah empat puluh. Para sahabat bertanya, “Empat puluh bulan?” Jawab Rasul, “Mungkin.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Jawab Rasul, “Mungkin.” Lalu beliau bersabda, “Kemudian Allah menurunkan dari langit air maka mereka tumbuh (hidup) sebagaimana tumbuhnya sayur-mayur. Semua manusia saat itu telah binasa kecuali satu tulang, yaitu tulang yang ada di bawah tulang punggungg yang mana dari tulang itulahj penciptaan makhluk akan dibentuk kembali pada hari kiamat. (HR. Bukhari)
Lalu dibukalah pintu-pintu langit sebagai jalan atau tempat turunnya malaikat, dijalankan gunung-gunung sehingga menjadi fatamorgana (27:88, 101:5, 20:105-107)
Neraka jahannam ada tempat pengintai (tempat untuk mengintip atau melihat) bagi orang-orang yang melampaui batas (murtad, orang-orang yang melakukan maksiat, dan orang-orang yang menentang pada Rasul). Tentang ayat ini ada dua pendapat:
• Al-Hasan dan Qatadah: tak seorang pun masuk surga hingga ia melewati neraka, lalu jika ia memiliki izin Allah maka ia akan selamat dari api neraka itu dan jika tidak ia akan terkurung di dalamnya
• Sufyan Ats-Tsauri: di atas neraka itu ada tiga titian
Mereka tinggal di neraka selama beberapa haqbun. Satu haqbunnya:
1. Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru, Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Amru bin Ma’mun, Al-Hasan, Qatadah, Rabi’ bin Anas, dan Adh-Dhahhak: 80 tahun akhirat, setiap tahunnya 12 bulan, setiap bulannya 30 hari, setiap harinya 1000 tahun menurut kalender dunia (1 haqbun = 28,8 juta tahun dunia)
2. Al-Hasan dan As-Suda: 70 tahun akhirat (1 haqbun = 25,2 juta tahun dunia)
3. Abdullah bin Amr: 40 tahun akhirat (1 haqbun = 14,4 juta tahun dunia)
4. Basyir bin Ka’ab: 300 tahun akhirat (108 juta tahun dunia)
5. Abu Umamah: 30.000.000 tahun dunia [5] ini hadits yang munkar sekali
6. Ibnu Umar: 80 tahun dunia
7. Imam As-Suddi: ahqaabaa itu 700 haqbun (1 haqbun = 70 tahun akhirat), maka ahqaabaa = 17,64 milyar tahun dunia
8. Muqatil bin Hayyan: ayat ini terhapus dengan ayat 30
9. Qatadah dan Rabi’ bin Anas: yang benar adalah keberadaan mereka di neraka tidak terputus-putus dan tidak berhenti
10. Al-Hasan: al-ahqab adalah masa waktu yang tidak memiliki bilangan kecuali selama-lamanya atau kekal di dalamnya, tapi disebut juga bahwa 1 haqbun = 70 tahun akhirat
11. Qatadah: ahqaabaa adalah masa waktu yang tidak terputus-putus; setiap kali habis masa waktu selama satu haqbun maka akan datang satu haqbun lanilla dan begitu seterusnya
12. Rabi’ bin Anas: ahqaabaa artinya masa waktu yang tidak diketahui lamanya kecuali Allah SWT, tapi disebut juga bahwa 1 haqbun = 80 tahun akhirat
Mereka tidak akan merasa sejuk dan minum—Ibnu Jarir: tidak tidur; Al-Kindy, Mujahid, Abu Ubaidah dan Al-Kasai: al-baridu itu an-nu’asu (kantuk) dan an-naumu (tidur))—kecuali hamim dan ghassaaq. Rabi’ bin Anas: hamim adalah panas yang telah mencapai puncak tertinggi dari ukuran derajat panas; ghassaaq adalah campuran dari nanah penghuni neraka dengan keringat, air mata dan luka yang ada pada mereka, tak seorang pun sanggup menahan bau busuknya.
Itu semua sebagai pembalasan yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka yang merusak di dunia: mereka tidak percaya bahwa di sana ada suatu tempat yang menjadi tempat pembalasan serta tempat perhitungan atas perbuatan mereka, mendustakan dan keras kepala terhadap hujjah-hujjah Allah, padahal semua perbuatan mereka dicatat dalam suatu kitab. Maka dikatakan kepada penghuni neraka: rasakanlah oleh kalian dengan apa yang kalian alami saat ini, sungguh kalian tidak diberi tambahan kecuali siksaan demi siksaan terus-menerus dan selama-lamanya. Qatadah: “Belum pernah diturunkan ayat kepada para penghuni neraka ayat yang lebih menakutkan dari pada ayat ini.”
Tafsir Ayat 31 – 36[4]
Bagi yang bertaqwa Allah sediakan
1. mafaazaa:
• Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak: mutanazzihan (tempat yang menyenangkan)
• Mujahid dan Qatadah: mereka mendapatkan kemenangan maka mereka dapat selamat dari neraka
Pendapat yang lebih benar adalah Ibnu Abbas.
2. hada’iq: taman-taman dan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon kurma
3. kawa’ib menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dll artinya nawahid (montok): payudara bidadari itu montok (menonjol dan bulat), serta tidak lembek karena mereka perawan yang satu umur (56:35-38). Sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya gerak-gerik penghuni surga akan terlihat jelas melalui keridhaan Allah, dan sesungguhnya ketika awan berjalan melewati mereka maka awan itu memanggil mereka, ‘Wahai penghuni surga, apakah yang kalian inginkan untuk aku hujani kepada kalian?’ Hingga awan itu menghujani mereka dengan bidadari-bidadari yang montok dan seumur.”
4. gelas-gelas yang penuh:
• Ibnu Abbas: gelas-gelas berisi penuh dan terus-menerus penuh
• Ikrimah: dihaaqaa artinya shafiyah (suci)
• Mujahid, Al-Hasan, Qatadah dan Ibnu Zaid: dihaaqaa artinya al-matra’ah (sangat terisi penuh)
• Mujahid dan Said bin Jubair: dihaaqaa artinya mutatabi’ah (terus-menerus)
5. tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia dan dusta (52:23): tempat yang damai dan segala yang ada di tempat itu terhindar dari segala macam kekurangan
Semua itu sebagai imbalan yang Allah berikan kepada mereka dari kebaikan Allah serta berdasarkan rahmat Allah dengan memberikan pemberian banyak dan mencukupi. Orang Arab berkata, a’thaanii fa ahsabanii (dia telah memberi kepadaku maka hal itu telah mencukupiku)
Tafsir Ayat 37 – 40[4]
Allah adalah pemilik sekaligus pemelihara langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya dan yang ada di antaranya, Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang mana kasih sayang Allah ini mencakup kepada setiap sesuatu. Tak seorang pun sanggup untuk memulai berbicara dengan Allah kecuali dengan seizinNya (2:255, 11:105).
Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata. Ruh di sini ada beberapa arti:
1. Al-Aufi dari Ibnu Abbas: ruh-ruh Bani Adam (manusia)
2. Al-Hasan dan Qatadah (ia berkata bahwa ini pendapat Ibnu Abbas yang dirahasiakan): seluruh keturunan anak Adam
3. Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Shalih dan Al-A’masy: seluruh makhluk Allah yang telah diciptakan dengan memiliki bentuk anak Adam dan mereka itu bukanlah malaikat dan bukan pula manusia, akan tetapi mereka makan dan minum
4. Asy-Sya’bi, Said bin Jubair dan Adh-Dhahhak: malaikat Jibril (26:193-194). Muqatil bin Hayyan: malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah serta pemilik (pembawa) wahyu
5. Ibnu Zaid: Al-Qur’an (42:52)
6. Ali ibn Abi Thalhah dari Ibnu Abbas: satu di antara para malaikat yang ukurannya sama dengan seluruh makhluk Allah
Ibnu Katsir memilih pendapat seluruh bani Adam. Mereka mengatakan perkataan yang benar: laa ilaaha illallah (Abu Shalih dan Ikrimah)
Hari itu pasti terjadi, maka barang siapa menghendaki pasti akan menjadikan Allah sebagai tujuannya dan ia akan berjalan pada minhaj yang menunjukkan dirinya pada Allah. Allah telah memperingatkan dengan adzab yang dekat (hari kebangkitan yang telah mendekat dan setiap yang mendekat pasti akan datang). Pada hari itu manusia diperlihatkan seluruh amal baik/buruk, lama/baru (18:49, 75:13), sehingga orang-orang kafir berkeinginan bahwa saat di dunia ia menjadi tanah saja. Keinginan ini timbul:
• Saat melihat perbuatan-perbuatannya yang merusak yang tertulis dalam kitab-kitab catatan para malaikat yang mulia dan baik
• Saat Allah mengadili seluruh makhluk dengan adil serta tidak melakukan kecurangan dalam pengadilan, hingga dalam pengadilan itu Allah mengadili dua makhluk ciptaanNya, yaitu domba, kemudian Allah berkata kepada satu di antara kedua makhluk itu jadilah engkau tanah, maka makhluk itu menjadi tanah. Karena itulah orang kafir mengatakan, “alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”
Bojonggede, 27 Januari 2005
Abdul Wahid Surhim
Rujukan:
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2. Ash-Shabuni, Muhammad Ali, 1999, Shafwatut Tafaasiir, Jilid 3, Darul Kutub Al-Islamiyah, Yakarta
3. Qutb, Sayyid, Fi Zhilaalil Qur’an Juz Amma – Tafsir Di Bawah Naungan Al-Qur’an, H. Bey Arifin & Jamaluddin Kafie (Penerjemah), 1984, Bina Ilmu, Surabaya
4. Ibnu Katsir, Khalid bin Musthafa Salim Abu Shaleh (Muhaqqiq), Farizal Tirmizi (Penerjemah), Tafsir Juz Amma, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Cetakan Keenam, November 2004
5. Ibnu Katsir, Tasfirul Qur’anil Azhim, Juz 4, Maktabah wa Mathba’ah Thaha Putra Semarang
Surat An-Naba’ terdiri dari 40 ayat, termasuk kedalam golongan surat-surat Makkiyah. Diturunkan sesudah surat Al-Ma’arij (70). Disebut juga surat “’Amma yatasaa-aluun” [1].
Garis besar isinya adalah sebagai-berikut[2]:
• Disebut surat An-Naba’ yang berarti berita besar karena di dalamnya mengandung berita tentang kiamat, kebangkitan (ba’ats), dan orbit surat ini adalah sekitar “akidah kebangkitan” yang selalu diingkari orang-orang musyrik (Makkah).
• Surat yang mulia ini dimulai dengan berita bertemakan kiamat, kebangkitan dan pembalsan. Tema ini menyibukkan pikiran mayoritas orang-orang kafir Mekkah, hingga terlihat siapa yang membenarkan dan yang mendustakan (ayat 1 – 5)
• Kemudian ditegakkan dalil-dalil dan bukti-bukti kekuasaan Rabbul ‘alamin, yang mampu menciptakan berbagai keajaiban. Ini tidak melemahkan Allah untuk mengembalikan penciaptaan manusia dari ketiadaannya (ayat 6 – 16)
• Kemudian diakhiri setelah itu dengan mengingatkan akan kebangkitan, ketentuan waktunya dan janji-janjiNya. Itulah yaumul fashl (hari keputusan) antar-hamba, saat Allah mengumpulkan manusia dari yang pertama sampai yang terakhir untuk dihisab (ayat 17 – 20)
• Kemudian menceritakan tentang neraka Jahannam yang Allah ancamkan kepada orang-orang kafir, beserta apa yang ada di dalamnya dari berbagai jenis siksa yang menghinakan (ayat 21 – 30)
• Setelah menceritakan tentang orang-orang kafir, kemudian menceritakan tentang orang-orang mukmin dan apa yang dijanjikan Allah Ta’ala bagi mereka dari berbagai kenikmatan. Itulah metode Qur’an, yakni menggabungkan antara tarhib wat-targhib (ayat 31 – 36)
• Surat yang mulia ini ditutup dengan menceritakan tentang suasana hari kiamat, saat orang-orang kafir menginginkan seandainya Allah menjadikan dirinya tanah, maka tidak akan dikumpulkan dan dihisab (ayat 37 – 40).
Sayyid Qutb[3] berkomentar terhadap surat ini sebagai berikut:
“Surat ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang timbul dari arus pertentangan di kalangan manusia mengenai suatu “hakikat” yang masih mereka pertengkarkan kebenarannya, yaitu “berita besar” yang tidak mustahil lagi, suatu yang pasti tanpa diragukan lagi, karena berita besar itu apabila mereka alami sendiri hakikatnya nanti, akan berakibat fatal bagi mereka sendiri (ayat 1 – 5).
Maka dari itu, kontek pembicaraan tentang berita besar itu ditinggalkan sementara sampai datang waktunya untuk dibicarakan lagi, sampai kenyataan terjadi di hadapan atau di sekitar mereka, baik yang berkenaan dengan kejadian alam, kehidupan, maupun dalam arti mereka sendiri (ayat 6 – 16).
Dari kumpulan ini—hakikat, pemandangan, penggambaran dan simponi—semuanya membawa mereka kepada berita besar yang mereka perselisihkan tentang ini, dan berakibat fatal bagi mereka setelah mereka mengetahuinya! Kepada mereka dikatakan, ‘Apa itu, dan bagaimana?’ (ayat 17 – 20)
Kemudian dipertontonkan adzab dengan segala kekerasan dan kehebatannya (ayat 21 – 30), dan tentang kenikmatan yang tercurah itu (ayat 31 – 36).
Surat ini diakhiri dengan simponi yang agung, di dalam hakikat dan di dalam persaksian yang diketengahkannya, berikut peringatan dan pengajaran hari yang pasti itu terjadi (ayat 37 – 40).
Itulah “berita besar” yang dipertanyakan oleh mereka. Dan itulah peristiwa yang pasti akan terjadi, pada waktu itu mereka menyaksikan sendiri berita besar itu!”
Tafsir Ayat 1 – 16[4]
Allah SWT berfirman dalam ayat-ayat ini untuk membantah dengan keras terhadap pertanyaan orang-orang musyrik yang mengingkari terjadinya hari kiamat. Ayat 1-2 mengandung arti tentang sesuatu apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang perkara hari kebangkitan dan itu adalah suatu berita yang besar, yaitu berita yang menakutkan, mengejutkan, dan dahsyat. Ada dua pendapat tentang arti “berita besar” itu:
• Qatadah dan Ibnu Zaid: hari kebangkitan setelah kematian
• Mujahid: Al-Qur’an
Yang benar adalah pendapat yang pertama.
Ayat 3: bahwa manusia dalam menghadapi berita ini terbagi kedalam dua golongan: yang percaya dan yang mengingkari. Kepada yang mengingkarinya Allah mengancam, “Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui.” Ini adalah ancaman yang keras dan janji yang amat dikuatkan.
Allah segera menerangkan kemampuanNya yang amat hebat dalam menciptakan segala sesuatu yang aneh, serta perkara-perkara yang ajaib yang menunjukkan kemampuanNya dalam melaksanakan segala sesuatu yang Dia kehendaki pada urusan-urusan akhirat, dll:
• bumi disediakan untuk semua makhluk sebagai tempat tinggal yang tetap,
• gunung-gunung dijadikan sebagai pasak yang berfungsi untuk menancapkan bumi agar tidak bergerak sehingga tidak menggoncangkan makhluk-makhluk Allah yang ada di atasnya.
• diciptakanNya laki-laki dan perempuan yang satu sama lainnya dapat saling menikmati sehingga menghasilkan keturunan dengan kenikmatan itu (30:21)
• tidur sebagai istirahat: berhenti dari bergerak untuk mendapatkan istirahat setelah banyak bekerja berbuat mencari penghidupan sepanjang hari (25:47)
• malam sebagai pakaian: kegelapan dan hitamnya malam menyelimuti manusia (92:1). Qatadah mengartikan libaasaa dengan ketenangan (sakanaa)
• siang bercahaya untuk memungkinkan manusia berusaha, pergi, bekerja, berniaga, dll
• tujuh buah langit adalah langit yang luas, tinggi, diciptakan dengan bijaksana serta amat teliti kemudian dihiasi dengan bintang-bintang yang berdiam dan yang bergerak
• matahari menyinari seluruh alam yang mana sinarnya dapat menerangi seluruh penduduk bumi seluruhnya
• diturunkan dari awan (al-mu’shirat) air yang banyak tercurah (tsajjaajaa). Al-mu’shirat berarti
o Ibnu Abbas, Ikrimah, Catada, Muqatil, Al-Kalby, Zaid bin Aslam dan anaknya Abdurrahman: angin (ar-riyah)
o Ibnu Abbas, Ikrimah, Abul ‘Aliyah, Adh-Dhahhak, Al-Hasan, Ar-Rabi’ bin Anas, Ats-Tsauri dan Ibnu Parir: awan (as-sahaab)
o Al-Farra’: awan yang di dalamnya terdapat air hujan dan air hujan itu belum turun, seperti perkataan imra’ah mu’shir, yaitu wanita yang telah dekat masa haidnya akan tetapi belum haid
o Al-Hasan dan Qatadah: dari langit (minas samaawaati). Tapi ini pendapat aneh
Pendapat yang benar adalah awan (30:48): keluar dari celah-celahnya, yaitu celah awan. Sedangkan tsajjaajaa berarti:
o Mujahid, Qatadah, dan Rabi’bin Anas: tercurah (munshabbaa)
o Ats-Tsauri: terus-menerus (mutatabi’an)
o Ibnu Zaid: banyak (katsiiraa)
Ibnu Jarir: “Dalam pembicaraan Bangsa Arab, tidak ada istilah banyak turun hujan, akan tetapi istilah yang dipakai adalah air hujan tercurah terus-menerus.” Seperti sabda Rasul SAW, أفضل الحج العِجُّ والثج (sebaik-baik haji adalah dengan mengangkat suara tinggi-tinggi dan berpeluh keringat). Sabda Rasul SAW kepada wanita (Hammah binti Jahsy) yang sedang haid agar membersihkannya dengan kapas, maka wanita itu berkata bahwa darahnya akan lebih banyak lagi bahkan اََثََجُّ ثَجًّا (curahan air yang banyak dan terus-menerus)
• dari air hujan itu ditumbuhkan habbaa (biji-bijian yang disimpan untuk manusia dan binatang) dan nabaataa (sayur-mayur yang dimakan dalam keadaan segar) serta jannaatin (kebun-kebun dan taman-taman beserta buah-buahannya dengan berbagai macam bentuk, rupa, warna, serta aroma rasa yang beraneka ragam), semua buah-buahan itu tumbuh di satu tempat yaitu di bumi secara alfaafaa yang berarti mujtama’an (berkelompok) 13:4
Tafsir Ayat 17 – 30[4]
Allah mengabarkan bahwa hari keputusan (kebangkitan) datangnya telah ditetapkan waktunya, tidak bisa ditunda dan tidak bisa pula dipercepat serta tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui dengan pasti kecuali Allah ‘Azza wajalla (11:104). Ketika itu manusia datang secara afwaajaa yang berarti:
• Mujahid: berkelompok-kelompok (zamran-zamran)
• Ibnu Jarir: setiap Amat datang bersama Nabi mereka (17:71)
Rasulullah SAW bersabda: Waktu dua tiupan adalah empat puluh. Para sahabat bertanya, “Empat puluh bulan?” Jawab Rasul, “Mungkin.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Jawab Rasul, “Mungkin.” Lalu beliau bersabda, “Kemudian Allah menurunkan dari langit air maka mereka tumbuh (hidup) sebagaimana tumbuhnya sayur-mayur. Semua manusia saat itu telah binasa kecuali satu tulang, yaitu tulang yang ada di bawah tulang punggungg yang mana dari tulang itulahj penciptaan makhluk akan dibentuk kembali pada hari kiamat. (HR. Bukhari)
Lalu dibukalah pintu-pintu langit sebagai jalan atau tempat turunnya malaikat, dijalankan gunung-gunung sehingga menjadi fatamorgana (27:88, 101:5, 20:105-107)
Neraka jahannam ada tempat pengintai (tempat untuk mengintip atau melihat) bagi orang-orang yang melampaui batas (murtad, orang-orang yang melakukan maksiat, dan orang-orang yang menentang pada Rasul). Tentang ayat ini ada dua pendapat:
• Al-Hasan dan Qatadah: tak seorang pun masuk surga hingga ia melewati neraka, lalu jika ia memiliki izin Allah maka ia akan selamat dari api neraka itu dan jika tidak ia akan terkurung di dalamnya
• Sufyan Ats-Tsauri: di atas neraka itu ada tiga titian
Mereka tinggal di neraka selama beberapa haqbun. Satu haqbunnya:
1. Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru, Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Amru bin Ma’mun, Al-Hasan, Qatadah, Rabi’ bin Anas, dan Adh-Dhahhak: 80 tahun akhirat, setiap tahunnya 12 bulan, setiap bulannya 30 hari, setiap harinya 1000 tahun menurut kalender dunia (1 haqbun = 28,8 juta tahun dunia)
2. Al-Hasan dan As-Suda: 70 tahun akhirat (1 haqbun = 25,2 juta tahun dunia)
3. Abdullah bin Amr: 40 tahun akhirat (1 haqbun = 14,4 juta tahun dunia)
4. Basyir bin Ka’ab: 300 tahun akhirat (108 juta tahun dunia)
5. Abu Umamah: 30.000.000 tahun dunia [5] ini hadits yang munkar sekali
6. Ibnu Umar: 80 tahun dunia
7. Imam As-Suddi: ahqaabaa itu 700 haqbun (1 haqbun = 70 tahun akhirat), maka ahqaabaa = 17,64 milyar tahun dunia
8. Muqatil bin Hayyan: ayat ini terhapus dengan ayat 30
9. Qatadah dan Rabi’ bin Anas: yang benar adalah keberadaan mereka di neraka tidak terputus-putus dan tidak berhenti
10. Al-Hasan: al-ahqab adalah masa waktu yang tidak memiliki bilangan kecuali selama-lamanya atau kekal di dalamnya, tapi disebut juga bahwa 1 haqbun = 70 tahun akhirat
11. Qatadah: ahqaabaa adalah masa waktu yang tidak terputus-putus; setiap kali habis masa waktu selama satu haqbun maka akan datang satu haqbun lanilla dan begitu seterusnya
12. Rabi’ bin Anas: ahqaabaa artinya masa waktu yang tidak diketahui lamanya kecuali Allah SWT, tapi disebut juga bahwa 1 haqbun = 80 tahun akhirat
Mereka tidak akan merasa sejuk dan minum—Ibnu Jarir: tidak tidur; Al-Kindy, Mujahid, Abu Ubaidah dan Al-Kasai: al-baridu itu an-nu’asu (kantuk) dan an-naumu (tidur))—kecuali hamim dan ghassaaq. Rabi’ bin Anas: hamim adalah panas yang telah mencapai puncak tertinggi dari ukuran derajat panas; ghassaaq adalah campuran dari nanah penghuni neraka dengan keringat, air mata dan luka yang ada pada mereka, tak seorang pun sanggup menahan bau busuknya.
Itu semua sebagai pembalasan yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka yang merusak di dunia: mereka tidak percaya bahwa di sana ada suatu tempat yang menjadi tempat pembalasan serta tempat perhitungan atas perbuatan mereka, mendustakan dan keras kepala terhadap hujjah-hujjah Allah, padahal semua perbuatan mereka dicatat dalam suatu kitab. Maka dikatakan kepada penghuni neraka: rasakanlah oleh kalian dengan apa yang kalian alami saat ini, sungguh kalian tidak diberi tambahan kecuali siksaan demi siksaan terus-menerus dan selama-lamanya. Qatadah: “Belum pernah diturunkan ayat kepada para penghuni neraka ayat yang lebih menakutkan dari pada ayat ini.”
Tafsir Ayat 31 – 36[4]
Bagi yang bertaqwa Allah sediakan
1. mafaazaa:
• Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak: mutanazzihan (tempat yang menyenangkan)
• Mujahid dan Qatadah: mereka mendapatkan kemenangan maka mereka dapat selamat dari neraka
Pendapat yang lebih benar adalah Ibnu Abbas.
2. hada’iq: taman-taman dan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon kurma
3. kawa’ib menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dll artinya nawahid (montok): payudara bidadari itu montok (menonjol dan bulat), serta tidak lembek karena mereka perawan yang satu umur (56:35-38). Sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya gerak-gerik penghuni surga akan terlihat jelas melalui keridhaan Allah, dan sesungguhnya ketika awan berjalan melewati mereka maka awan itu memanggil mereka, ‘Wahai penghuni surga, apakah yang kalian inginkan untuk aku hujani kepada kalian?’ Hingga awan itu menghujani mereka dengan bidadari-bidadari yang montok dan seumur.”
4. gelas-gelas yang penuh:
• Ibnu Abbas: gelas-gelas berisi penuh dan terus-menerus penuh
• Ikrimah: dihaaqaa artinya shafiyah (suci)
• Mujahid, Al-Hasan, Qatadah dan Ibnu Zaid: dihaaqaa artinya al-matra’ah (sangat terisi penuh)
• Mujahid dan Said bin Jubair: dihaaqaa artinya mutatabi’ah (terus-menerus)
5. tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia dan dusta (52:23): tempat yang damai dan segala yang ada di tempat itu terhindar dari segala macam kekurangan
Semua itu sebagai imbalan yang Allah berikan kepada mereka dari kebaikan Allah serta berdasarkan rahmat Allah dengan memberikan pemberian banyak dan mencukupi. Orang Arab berkata, a’thaanii fa ahsabanii (dia telah memberi kepadaku maka hal itu telah mencukupiku)
Tafsir Ayat 37 – 40[4]
Allah adalah pemilik sekaligus pemelihara langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya dan yang ada di antaranya, Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang mana kasih sayang Allah ini mencakup kepada setiap sesuatu. Tak seorang pun sanggup untuk memulai berbicara dengan Allah kecuali dengan seizinNya (2:255, 11:105).
Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata. Ruh di sini ada beberapa arti:
1. Al-Aufi dari Ibnu Abbas: ruh-ruh Bani Adam (manusia)
2. Al-Hasan dan Qatadah (ia berkata bahwa ini pendapat Ibnu Abbas yang dirahasiakan): seluruh keturunan anak Adam
3. Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Shalih dan Al-A’masy: seluruh makhluk Allah yang telah diciptakan dengan memiliki bentuk anak Adam dan mereka itu bukanlah malaikat dan bukan pula manusia, akan tetapi mereka makan dan minum
4. Asy-Sya’bi, Said bin Jubair dan Adh-Dhahhak: malaikat Jibril (26:193-194). Muqatil bin Hayyan: malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah serta pemilik (pembawa) wahyu
5. Ibnu Zaid: Al-Qur’an (42:52)
6. Ali ibn Abi Thalhah dari Ibnu Abbas: satu di antara para malaikat yang ukurannya sama dengan seluruh makhluk Allah
Ibnu Katsir memilih pendapat seluruh bani Adam. Mereka mengatakan perkataan yang benar: laa ilaaha illallah (Abu Shalih dan Ikrimah)
Hari itu pasti terjadi, maka barang siapa menghendaki pasti akan menjadikan Allah sebagai tujuannya dan ia akan berjalan pada minhaj yang menunjukkan dirinya pada Allah. Allah telah memperingatkan dengan adzab yang dekat (hari kebangkitan yang telah mendekat dan setiap yang mendekat pasti akan datang). Pada hari itu manusia diperlihatkan seluruh amal baik/buruk, lama/baru (18:49, 75:13), sehingga orang-orang kafir berkeinginan bahwa saat di dunia ia menjadi tanah saja. Keinginan ini timbul:
• Saat melihat perbuatan-perbuatannya yang merusak yang tertulis dalam kitab-kitab catatan para malaikat yang mulia dan baik
• Saat Allah mengadili seluruh makhluk dengan adil serta tidak melakukan kecurangan dalam pengadilan, hingga dalam pengadilan itu Allah mengadili dua makhluk ciptaanNya, yaitu domba, kemudian Allah berkata kepada satu di antara kedua makhluk itu jadilah engkau tanah, maka makhluk itu menjadi tanah. Karena itulah orang kafir mengatakan, “alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”
Bojonggede, 27 Januari 2005
Abdul Wahid Surhim
Rujukan:
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2. Ash-Shabuni, Muhammad Ali, 1999, Shafwatut Tafaasiir, Jilid 3, Darul Kutub Al-Islamiyah, Yakarta
3. Qutb, Sayyid, Fi Zhilaalil Qur’an Juz Amma – Tafsir Di Bawah Naungan Al-Qur’an, H. Bey Arifin & Jamaluddin Kafie (Penerjemah), 1984, Bina Ilmu, Surabaya
4. Ibnu Katsir, Khalid bin Musthafa Salim Abu Shaleh (Muhaqqiq), Farizal Tirmizi (Penerjemah), Tafsir Juz Amma, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Cetakan Keenam, November 2004
5. Ibnu Katsir, Tasfirul Qur’anil Azhim, Juz 4, Maktabah wa Mathba’ah Thaha Putra Semarang
Langganan:
Komentar (Atom)